Type Here to Get Search Results !

Contoh Esai Lingkungan - Solusi Banjir Kemanusiaan dan Lingkungan

0

Contoh Esai Lingkungan - Solusi Banjir Kemanusiaan dan Lingkungan

 Esai ini merupakan campuran dari berbagai pendapat dan laporan faktual tentang masalah sosial dan solusi yang diusulkan. Saat menulis esai, tidak perlu menggunakan bahasa formal, tetapi Anda dapat menggunakan bahasa yang santai (setiap hari), karena esensi diskusi dapat mempengaruhi setiap pembaca.

Contoh Esai Lingkungan - Solusi Banjir Kemanusiaan dan Lingkungan

Dampak banjir yang menenggelamkan sebagian besar Jakarta saat ini benar-benar menghancurkan. Lebih dari 40 orang terbunuh, sekitar 400.000 orang, kaya dan miskin, mengungsi. Infrastruktur publik rusak parah, roda transportasi dihentikan, dan kerugian ekonomi mencapai hampir 4 triliun rupee. Berkurangnya throughput lingkungan, ketidaktahuan masyarakat akan prediksi bencana alam, kapasitas pemerintah yang lemah, menyebabkan dampak banjir yang parah.

Sebagai akibat dari banjir, hak-hak dasar warga negara dilanggar, yaitu pembatasan kesehatan, nutrisi, perumahan, pendidikan, air bersih dan lingkungan yang berkelanjutan. Orang miskin semakin miskin, banyak yang bahkan kembali ke nol karena semua harta mereka dihancurkan. Aset konstruksi yang telah dibangun dan dirawat selama bertahun-tahun rusak. Roda bisnis dan tenaga macet selama beberapa hari.

Masalah banjir Jakarta adalah peristiwa berulang yang klasik, tetapi selalu dianggap remeh dan sebagian diselesaikan oleh pemerintah. Pemerintah masih gagap dan tidak memiliki kemampuan untuk mencegah banjir dan mengurangi dampaknya. Terlepas dari kenyataan bahwa bencana semakin sering terjadi di negara ini, dan pemerintah seharusnya belajar dari pengalaman masa lalu. Selain itu, banjir adalah kategori bencana alam, di mana kelalaian dan kesalahan manusia mendominasi, oleh karena itu dampaknya harus diminimalkan.

Lebih aneh lagi, banjir terjadi di ibu kota, di mana presiden, wakil presiden, menteri, anggota parlemen, pejabat pemerintah dan pengusaha dengan ratusan miliar rupee memiliki kantor. Juga, ada sebagian besar sumber daya ekonomi, politik dan pertahanan. Dengan sumber daya ini, DKI Jakarta dan pemerintah pusat tidak akan mengalami kesulitan memobilisasi mereka untuk pengendalian banjir untuk meminimalkan dampak buatan manusia. Tetapi masyarakat mungkin tahu bahwa korban banjir tidak diperlakukan dengan baik dan benar. Bahkan korban dan kerugian tahun ini lebih besar dari banjir tahun 2002.

Pendekatan lingkungan

Masalah banjir di Jakarta tidak dapat diselesaikan secara sepihak dan sebagian, tetapi harus sesuai dengan sistem ekologi (ekosistem) dan humanistik. Pendekatan ini dapat diterapkan dengan menciptakan saling pengertian dan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah daerah yang berlokasi di hulu (Bogor-Punchak-Chianjur / Bopunkur) dan hilir (Jakarta).

Pendekatan ekosistem berarti mempertimbangkan penyebab dan konsekuensi banjir dalam ruang ekologis tunggal dengan menghilangkan hambatan administratif, politik, sosial dan ekonomi. Ekosistem Jakarta adalah satu ruang dengan ekosistem Bopunkur, sehingga mereka saling bergantung dan dipengaruhi. Perencanaan tata ruang hilir tidak akan cukup untuk menyelesaikan masalah jika tidak disertai dengan perencanaan tata ruang di daerah hulu.

Masalah kerusakan lingkungan di hulu adalah hasil dari persyaratan ekonomi yang disahkan oleh keputusan politik untuk meningkatkan perbendaharaan pendapatan lokal. Tingkat konversi lahan hijau di hulu menjadi daerah perumahan mencapai sekitar 10 ribu hektar per tahun. Era otonomi mendorong semua pemerintah di daerah untuk bersaing mendapatkan peningkatan pendapatan semaksimal mungkin dengan mengabaikan keseimbangan lingkungan. Padahal kawasan hulu memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Wacana tentang implementasi kebijakan stimulasi, pencegahan dan kompensasi dari daerah yang lebih rendah ke daerah yang lebih tinggi sangat relevan untuk implementasi segera.

Kebijakan insentif dirancang untuk merangsang pihak-pihak tertentu untuk melakukan apa yang mereka inginkan, dan faktor penahan adalah sebaliknya, yaitu, untuk menghindari perilaku yang tidak diinginkan. Insentif dapat berupa hadiah bagi mereka yang terlibat dalam kegiatan lingkungan. Rintangan dapat berupa denda, sanksi atau denda, yang dapat memiliki efek menahan kerusakan lingkungan, sedangkan kompensasi adalah jumlah moneter dan non-moneter yang diberikan kepada mereka yang telah melestarikan lingkungan agar memiliki dampak positif. berdampak pada mayoritas penduduk.

Jika daerah hulu menginginkan atau harus mengalokasikan persentase dari wilayahnya sebagai wilayah ekologis, yang berarti bahwa ia akan secara ketat mengontrol perkembangan ekonominya untuk mempengaruhi pendapatan, daerah hilir harus memberikan insentif dan kompensasi yang sesuai. . Insentif dan kompensasi ini harus sama dengan pengorbanan ekonomi dan sosial yang telah dibawa oleh daerah hulu, dan cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar minimum masyarakat, sementara pengekangan berlaku untuk daerah hulu dan hilir yang tidak mempertimbangkan kebijakan konservasi.

Pendekatan kemanusian

Pendekatan ekosistem harus paralel dengan pendekatan humanistik. Kebijakan insentif dan kompensasi juga merupakan manifestasi dari pendekatan humanistik. Orang-orang yang tinggal di hulu memiliki hak yang sama untuk hidup dengan aman dan bermartabat seperti mereka yang tinggal di hilir. Insentif dan kompensasi adalah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat hulu, karena mereka tidak melihat upaya pelestarian lingkungan sebagai paksaan.

Masalah lain adalah bahwa orang-orang yang tinggal di sepanjang tepi sungai dianggap sebagai salah satu alasan untuk meluap karena penyempitan dasar sungai. Mereka yang tinggal di pantai bukanlah pilihan, tetapi karena kemiskinan. Pergerakan mereka di sepanjang tepi sungai harus disertai dengan penyediaan alternatif perumahan yang berkelanjutan, terjangkau dan sehat. Ini juga terkait dengan masalah ketidakadilan, ketika orang kaya dapat dengan mudah mengontrol tanah dan mengubah perencanaan tata ruang, dan pemerintah selalu menyalahkan orang miskin.

Pendekatan humanistik juga akan merangsang partisipasi publik dalam kebijakan pengendalian banjir tanpa mengakui strata sosial, ekonomi dan politik. Kejadian banjir ini menegaskan bahwa semua kelompok menjadikan banjir sebagai ancaman bersama, dan melestarikan lingkungan adalah persyaratan yang tidak bisa lagi ditunda.\

Demikianlah yang dapat admin AVA Studio ID sampaikan materi ini dimana pembahasan mengenai Contoh Esai Lingkungan - Solusi Banjir Kemanusiaan dan Lingkungan. Semoga dengan materi yang sudah dibahas melalui artikel ini, dapat memberikan pemahamaan dan manfaat untuk sahabat pembaca semua.

Posting Komentar

0 Komentar

Top Post Ad

Below Post Ad